Minggu, 17 Mei 2015



KONSEP DIRI DALAN PSIKOLOG PENDIDIKAN

A.    Definisi Konsep Diri
Menurut Brehm & Kassin (1989) konsep diri dianggap sebagai komponen kognitif dari diri sosial secara keseluruhan, yang memberikan penjelasan tentang bagaimana individu memahami perilaku, emosi, dan motivasinya sendiri. Secara lebih rinci Brehm dan Kassin mengatakan bahwa konsep diri merupakan jumlah keseluruhan dari keyakinan individu tentang dirinya sendiri.
Pendapat senada diberikan oleh Gecas (dalam Albrecht, Chadwick & Jacobson, 1987) bahwa konsep diri lebih tepat diartikan sebagai persepsi individu terhadap diri sendiri, yang meliputi fisik, spiritual, maupun moral. Sementara Calhoun & Cocella (1990) mengatakan bahwa konsep diri adalah pandangan kita tentang diri sendiri, yang meliputi dimensi: pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapan mengenai diri sendiri, dan penilaian tentang diri sendiri.
Menurut Brooks (dalam Rakhmat, 2002) konsep diri disini dimengerti sebagai pandangan atau persepsi individu terhadap dirinya, baik bersifat fisik, sosial, maupun psikologis, dimana pandangan ini diperolehnya dari pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam hidupnya. Konsep diri ini bukan merupakan faktor bawaan, tetapi faktor yang dipelajari dan dibentuk melalui pengalaman individu berhubungan dengan orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Grinder (1976) bahwa persepsi orang mengenai dirinya dibentuk selama hidupnya melalui hadiah dan hukuman dari orang-orang di sekitarnya.
Partosuwido, dkk (1985) menambahkan bahwa konsep diri adalah cara bagaimana individu menilai diri sendiri, bagaimana penerimaannya terhadap diri sendiri sebagaimana yang dirasakan, diyakini dan dilakukan, baik ditinjau dari segi fisik, moral, keluarga, personal dan sosial.
Konsep diri mempunyai arti yang lebih mendalam dari sekedar gambaran deskriptif. Konsep diri adalah aspek yang penting dari fungsi-fungsi manusia karena sebenarnya manusia sangat memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan dirinya, termasuk siapakah dirinya, seberapa baik mereka merasa tentang dirinya, seberapa efektif fungsi-fungsi mereka atau seberapa besar impresi yang mereka buat terhadap orang lain (Kartikasari, 2002). Batasan pengertian konsep diri dalam Kamus Psikologi adalah keseluruhan yang dirasa dan diyakini benar oleh seorang individu mengenai dirinya sendiri (Kartono & Gulo, 1987).
Berzonsky (1981) menyatakan bahwa konsep diri yang merupakan gabungan dari aspek-aspek fisik, psikis, sosial, dan moral tersebut adalah gambaran mengenai diri seseorang, baik persepsi terhadap diri nyatanya maupun penilaian berdasarkan harapannya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah pandangan atau penilaian individu terhadap dirinya sendiri, baik yang bersifat fisik, sosial, maupun psikologis, yang didapat dari hasil interaksinya dengan orang lain.

B.     Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri mulai berkembang sejak masa bayi, dan terus akan berkembang sejalan dengan perkembangan individu itu sendiri. Pada awalnya terbentuk pengertian samar-samar, yang merupakan pengalaman berulang-ulang, yang berkaitan dengan kenyamanan atau ketidaknyamanan fisik, sehingga pada akhirnya akan membentuk konsep dasar sebagai bibit dari konsep diri (Asch dalam Calhoun & Cocella, 1990). Jika anak diperlakukan dengan kehangatan dan cinta, konsep dasar yang muncul mungkin berupa perasaan positif terhadap diri sendiri, sebaliknya jika anak mengalami penolakan, yang tertanam adalah bibit penolakan-diri di masa yang akan datang (Coopersmith dalam Calhoun & Cocella, 1990).
Memperkuat pendapat di atas, dijelaskan oleh Taylor, Peplau, & Sears (1994), bahwa pengetahuan tentang diri dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain praktek sosialisasi, umpan balik yang diterima dari orang lain, serta bagaimana individu merefleksikan pandangan orang lain terhadap dirinya.
Sementara itu, Cooley (dalam Albrecht dkk, 1987) mengatakan bahwa konsep diri seseorang berkembang melalui reaksi orang lain, dalam artian bahwa konsep diri individu terbentuk melalui imajinasi individu tentang respon yang diberikan orang lain. Dengan kata lain, bahwa persepsi tersebut merupakan konsekuensi bagi individu, dan apapun itu, semuanya dianggap tepat. Jadi jika orang lain merespon individu secara negatif, maka hal itu dapat membawa akibat yang cukup serius bagi konsep diri individu.
Pendapat di atas diperkuat oleh Albrecht, dkk (1987) yang mengatakan bahwa umpan balik terhadap perilaku individu yang didapat dari orang-orang yang cukup berarti (significant others) akan menjadi sangat penting, baik itu berupa hadiah maupun hukuman. Dalam perkembangannya, significant others dapat meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita (Rakhmat, 2002). Lebih lanjut dijelaskan, pada masa kanak-kanak, orangtualah yang berperan sebagai significant others. Pada masa selanjutnya, masa sekolah sampai remaja, peran teman sebaya menjadi lebih penting, dan ketika individu berada pada masa dewasa serta telah mencapai kemandirian secara ekonomi, peran orangtua secara berangsur-angsur menurun, dan digantikan oleh teman, rekan kerja, dan pasangan hidup (Albrecht dkk, 1987).
Andayani & Afiatin (1996) menjelaskan bahwa konsep diri terbentuk melalui proses belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi tersebut akan memberikan pengalaman-pengalaman atau umpan balik yang diterima dari lingkungannya, sehingga individu akan mendapatkan gambaran tentang dirinya. Begitu pentingnya penilaian orang lain terhadap pembentukan konsep diri ini, sehingga Allport (dalam Helmi & Ramdhani, 1992) mengemukakan bahwa seorang anak akan melihat siapa dirinya melalui penilaian orang lain terhadap dirinya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas disimpulkan bahwa konsep diri terbentuk melalui proses belajar dan bukan merupakan faktor bawaan dan berkembang melalui interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya dalam bentuk umpan balik yang diterima dari orang-orang yang berarti bagi individu.

C.    Aspek-aspek Konsep Diri
Berzonsky (1981) mengemukakan bahwa aspek-aspek konsep diri meliputi:
1.   Aspek fisik (physical self) yaitu penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimiliki individu seperti tubuh, pakaian, benda miliknya, dan sebagainya.
2.   Aspek sosial (sosial self) meliputi bagaimana peranan sosial yang dimainkan oleh individu dan sejauh mana penilaian individu terhadap perfomannya.
3.   Aspek moral (moral self) meliputi nilai- nilai dan prinsip-prinsip yang memberi arti dan arah bagi kehidupan individu.
4.   Aspek psikis (psychological self) meliputi pikiran, perasaan, dan sikap-sikap individu terhadap dirinya sendiri.
               Sementara itu melengkapi pendapat di atas, Fitts (dalam Burns, 1979) mengajukan aspek-aspek konsep diri, yaitu:
1.   Diri fisik (physical self). Aspek ini menggambarkan bagaimana individu memandang kondisi kesehatannya, badannya, dan penampilan fisiknya.
2.   Diri moral-etik (moral-ethical self). Aspek ini menggambarkan bagaimana individu memandang nilai- nilai moral-etik yang dimilikinya. Meliputi sifatsifat baik atau sifat sifat jelek yang dimiliki dan penilaian dalam hubungannya dengan Tuhan.
3.   Diri sosial (sosial self). Aspek ini mencerminkan sejauhmana perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosial dengan orang lain.
4.   Diri pribadi (personal self). Aspek ini menggambarkan perasaan mampu sebagai seorang pribadi, dan evaluasi terhadap kepribadiannya atau hubungan pribadinya engan orang lain.
5.   Diri keluarga (family self). Aspek ini mencerminkan perasaan berarti dan berharga dalam kapasitasnya sebagai anggota keluarga.
                     Dari uraian di atas dapat disimpulkan dalam menjelaskan aspek-aspek konsep diri, tampak bahwa pendapat para ahli saling melengkapi meskipun ada sedikit perbedaan, sehingga dapat dikatakan bahwa aspek-aspek konsep diri mencakup diri fisik, diri psikis, diri sosial, diri moral, dan diri keluarga.

D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
1.       Usia
Grinder (1978) berpendapat bahwa konsep diri pada masa anak-anak akan mengalami peninjauan kembali ketika individu memasuki masa dewasa.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa konsep diri dipengaruhi oleh meningkatnya faktor usia. Pendapat tersebut diperkuat oleh hasil penelitiannya Thompson (dalam Partosuwido, 1992) yang menunjukkan bahwa nilai konsep diri secara umum berkembang sesuai dengan semakin bertambahnya tingkat usia.
2.      Tingkat Pendidikan
Pengetahuan merupakan bagian dari suatu kajian yang lebih luas dan diyakini sebagai pengalaman yang sangat berarti bagi diri seseorang dalam proses pembentukan konsep dirinya. Pengetahuan dalam diri seorang individu tidak dapat datang begitu saja dan diperlukan suatu proses belajar atau adanya suatu mekanisme pendidikan tertentu untuk mendapatkan pengetahuan yang baik, sehingga kemampuan kognitif seorang individu dapat dengan sendirinya meningkat. Hal tersebut didasarkan pada pendapat Epstein (1973) bahwa konsep diri adalah sebagai suatu self theory, yaitu suatu teori yang berkaitan dengan diri yang tersusun atas dasar pengalaman diri, fungsi, dan kemampuan diri sepanjang hidupnya.
3.       Lingkungan
Shavelson & Roger (1982) berpendapat bahwa konsep diri terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman dan interpretasi dari lingkungan, terutama dipengaruhi oleh penguatan-penguatan, penilain orang lain, dan atribut seseorang bagi tingkah lakunya.



EMOSI DALAM PSIKOLOG PENDIDIKAN

A.    Definisi Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.Pengertian Emosi Dalam kehidupan banyak sekali permasalahan, dalam berita-berita banyak dikabarkan orang masuk jeruji besi hanya karena tidak dapat menahan emosi. Pemukulan, adu fisik dan bahkan pembunuhan. Alangkah sayangnnya permasalah itu timbul hanya karena masalah sepele dan emosi yang meluap-luap.


B. Fakor-faktor yang mempengaruhi Emosi
1.      Perubahan fisiologis pada wajah, otak,dan tubuh.
Raut wajah gerak tubuh. Contoh : tepuk tangan sambil bilang yaa..
2.      Proses kognitif
Kecerdasan berpikir, baik atau buruknya emosi bergantung pada cara berpikir otak.
3.      Pengaruh budaya
 Kebiasan prilaku sesorang, dialeg orang indonesia timur biasanya bernada bicara tinggi.

C. Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah pemahaman kita tentang benar dan salah suatu tidakan manusia atau kejadian yang memunculkan perspektif tersendiri. Teori perkembangan moral biasanya fokus pada panalaran moral kita bagaimana kita melakukan penilaian tentang apakah suatu hal benar atau salah.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral

Lingkungan Keluarga
            Keluarga sebagai lingkungan pertama yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral dan sikap seseorang. Biasanya tingkah laku seseorang berasal dari bawaan ajaran dari kedua orang tuanya. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan orang tuanya dimasa kecil, kemungkinan besar mereka tidak mampu mengembangkan superegonya hingga mereka bisa menjadi terbiasa menjadi orang yang melakukan pelanggaran norma.

Lingkungan Sekolah
            Disekolah anak-anak mempelajari nilai-nilai norma yang berlaku dimasyarakat sehingga mereka juga dapat menentukan mana tindakan yang baik dan boleh dilakukan. Tentunya dengan bimbingan guru. Anak-anak cenderung menjadi guru sebagai model dalam bertingkah laku, oleh karena itu guru harus memiliki moral yang baik.

Lingkungan Pergaulan
            Dalam perkambangan kepribadian, faktor lingkunagn pergaulan juga turut mempengaruhi nilai,moral dan sikap. pada masa remaja, biasanya sesorang selalu ingin mencoba sesuatu hal yang baru. Dan selalu ada rasa tidak enak apabila menolak ajakan teman. Bahkan terkadang seorang teman juga bisa dijadikan panutan baginya.

Lingkungn Masyarakat
            Masyarakat sendiri juga mmiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri untuk si pelanggarnya.


Teknologi
            Pengaruh dari kecanggihan teknologi juga memiki pengaruh kuat terhadap terwujudnya suatu nilai. Diera zaman sekarang, remaja banyak sekali menggunakan teknologi untuk belajar maupun sebagai hiburan. Contoh : internet memiliki fasilitas yang menawarkan berbagai informasi yang dapat diakses secara langsung.


Daftar pustaka

Konsep diri : http://aeppsikologi.blogspot.com/2011/10/konsep-diri.html
Emosi : http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/